Perempuan Atas Nama Cinta


Perempuan adalah ciptaan Allah SWT yang hadir atas nama cinta.
Hawa adalah perempuan pertama yang diciptakan atas dasar cinta Allah SWT kepada Adam.

Bukan aku tak punya rasa, tapi rasa ini sedang aku simpan hingga nanti saat semua kehalalan datang. Dan aku masih memantaskan diriku untuk menjadi perempuan sholehah. Ada keindahan dari semua penantianku selama ini, keindahan ketika semua menjadi halal bagiku, dan itulah sebaik-baiknya keindahan. Karena cinta itu suatu anugerah, bukan hasil usaha. Cinta berasal dari Allah SWT.
Wanita solehah adalah sebaik-baik keindahan
Menatapnya menyejukkan qolbu

Mendengarkan suaranya menghanyutkan bathin

Di tinggalkan menambah keyakinan

Wanita solehah adalah bidadari syurga yang hadir di dunia
Wanita solehah adalah ibu dari anak-anak yang mulia
Wanita solehah adalah istri yang meneguhkan jihad suami
Wanita solehah menebar rahmat bagi rumah tangga cahaya dunia akhirat
(Unknown) 
Lantunan syair itu membuat hatiku rapuh dalam sujudku. Aku tidak dapat menaikkan tubuhku yang sudah tersungkur hampir satu jam di atas sajadah ini. Air mataku meleleh layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya. Sesenggukan dan terkadang menyayat hati. Sering kali jatuh cinta dikaitkan dengan akhir yang patah hati. Oh ini kah rasanya patah hati? Seketika membuatku melankolis dan rapuh. Hanya sebuah rasa yang bisa membuatku menjadi bukan aku yang dulu. Rasa yang aneh yang bersemayam di tiap-tiap diri.

Aku belajar melupakan, memaafkan dan tersenyum.
5 Juni 2014
Ini saya, apa adanya. Insan biasa yang secara fitrahnya tiada sempurna. Melangkah di atas jalur perjalanan yang di aturkan-Nya dengan kemas dan berhikmah. Berkongsi sedikit rasa dengan ilmu miskin. Semoga hati senantiasa damai dengan tiap takdir yang digariskan. Karena Allah itu ada dan akan senantiasa ada. DIA juga lah pemilik rasa ku ini..
Kadang-kadang dalam hidup ini kita menaruh percaya pada salah tempat, salah orangnya. Kamu tau bagaimana rasanya kecewa? Rasanya sungguh tidak enak, pahit, sakit. Tapi sakitnya tidak seperti tertelan satu gebok pisang yang menyangkut di kerongkongan. HAHAHA.. Saya sedang tertawa.
Yang saya sudah percaya dan sedang untuk percaya, saya tau kamu tidak akan membaca ini, karena saya bukanlah kepentingan utama. Tapi saya sangat berharap kamu merasa. Maafkan saya, jika saya selalu diam. Saya tertawa tadi bukan bermakna saya gembira. Pergilah jauh jauh dari saya. Yang menipis sekarang ini namanya PERCAYA.
Yang terungkap oleh kata dan rasa.. 
Bahwa saya manusia biasa, tersenyum bisa saja, tapi hati belum tentu.

-G-

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholih, kelak ALLAH Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”(Q.S. Maryam: 96)
 Tiap titik di dunia ini adalah dari Allah, pun akan kembali pada-Nya. Termasuk di dalamnya cinta, datang dan pergi atas kehendak-Nya. Then, what is that, love? Mungkin bisa dibilang, seperti kata orang, “Love is something easy to feel, but impossible to define.” Pernah membaca hadist ini?
“Wahai Muhammad, hiduplah sesukamu tapi kau pasti mati. Berbuatlah sekehendakmu tapi kau pasti dibalas. Dan cintailah siapapun yang kau mau tapi engkau pasti berpisah dengannya.” (HR. ath-Thabrani)
Sebuah sindiran hebat bagi kita yang tidak sabar dalam menjalin cinta. Sindiran yang tepat untuk menggambarkan betapa seharusnya kita bersabar, menanti yang halal. Meski kadang rapuh, namun itu menjadi lebih mudah dan barokah, daripada memaksakan diri menjalin cinta yang tak kenal arah. Maksudnya pacaran.

Kenapa kita tidak sabar saja? Atau takut tidak dapat jodoh? Masa iya? Mungkin lebih tepatnya dikatakan bahwa ‘hal itu’ di jalankan oleh mereka yang tidak mau meyakini kekuasaan dan ketetapan Allah SWT. Atau takut si dia diambil orang? Astagfirullah. Telah di ajarkan Rasulullah kepada kita :
“Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk (yang bengkok), (sehingga) dia tidak bisa terus-menerus (dalam keadaan) lurus jalan (hidunya).’ (HR. Muslim no. 1468)
Sangat jarang diingat, bahwa jodoh itu tidak akan tertukar, apalagi hilang. Perempuan (Hawa) itu, diciptakan dari tulang rusuknya laki-laki (Nabi Adam AS), jadi tidak mungkin jika seorang laki-laki memaksakan diri mencocokkan tulang rusuk orang lain dengannya. Katakanlah begini, dia mencoba memiliki hal yang ‘bukan haknya’, atau belum menjadi hak nya, ya pasti tidak bisa. Sabarlah sebentar, karena sabar itu separuh dari pada iman.

Allah Yang Maha Mengusai hati, bahwa tiap-tiap kita telah disiapkan jodoh, langsung, dari Allah. Telah dikabarkan-Nya pada kita :
“Dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan.” (Q.S. an-Naba’: 8)
Allah telah menjamin. Lalu kenapa kita takut? Kenapa kita ragu? Satu ayat ini saja rasanya sudah cukup ampuh untuk menguatkan kita berjuang sendiri dulu. Insya Allah..

Jangan khawatir, keniscayaan bahwa jodoh yang Allah pilihkan untuk kita akan datang merangkul kita, ialah yang terbaik dan terindah, dan tidak akan meninggalkan kita. Dan menjadi tempat berteduh bila hati terasa penat, tempat bersandar bila kepala terasa berat, dan tempat berlabuh bila hati sedang tertatih. Kini tinggal bagaimana cara kita menantinya, menunggunya dalan tahajud kita dengan sabar dan tabah. Insya Allah..
“…Sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah SWT itu, pasti datang..” (Q.S. al-‘Ankabuut :5)
“Telah pasti datangnya ketetapan ALLAH, maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang)-nya.” (Q.S. an-Nahl : 1)
Itulah sebuah potongan kalam Allah yang menjelaskan kepada kita, bahwa akan ada saatnya harapan kita menjadi kenyataan, dan itu pasti. Akan ada waktu saat kita menikmati buah pohon kesabaran kita. Segala sesuatu di dunia ini indah, sungguh, Ukhti cantik. Namun pada waktunya. Yuk jadikan sabar sebagai pilihan kita..
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu…” (Q.S. al-Baqarah : 45)
Aku tidak menentang cinta yang datang, tidak sama sekali. Karena Rasulullah saja tidak pernah melarang,
“Tidak beriman diantara kamu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasai, Ibnu Maajah, Ahmad) 
Cinta sangat di anjurkan dalam agama-Nya. Namun, cinta yang seperti itu akan ada setelah waktunya tiba. Kita kita hanya harus bersabar dalam usaha, bukan usaha tapi tidak sabar. Daripada Allah marah, murka karena kita membutakan diri dengan cinta yang bukan karena-Nya, tidak halal dan ‘maksa’. Karena ketahuilah, Asma’ binti Abu Bakar meriwayatkan, suatu saat beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda,
“Tidak ada seorang pun yang lebih pencemburu, daripada ALLAH ‘Azza Wajalla.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak hanya itu, Allah telah berjanji untuk mereka yang mencintai manusia karena Allah (yang tentunya cinta tertinggi di hatinya adalah untuk-Nya).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ALLAH Ta’ala berfirman:
“Dan tidaklah seseorang hamba-Ku itu mendekatkan pada-Ku dan melakukan hal-hal yang sunnah sehingga akhirnya Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Akulah yang sebagai telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, Akulah matanya yang ia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang ia gunakan untuk mengambil dan Akulah kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.”
 “Andaikata ia meminta sesuatu pada-Ku, pastilah Ku-beri dan andaikata memohonkan perlindungan pada-Ku, pastilah Ku-lindungi.” (Riwayat Bukhari)

Subhanallaah. Begitu manis gambaran betapa dahsyatnya kasih sayang yang Allah hidupkan di tiap hati hamba yang mencintai-Nya. Janji ALLAH begitu hebat dan menggoncangkan raga dan jiwa.

Cinta yang dahsyat itu tidak akan pernah kita temui pada siapapun yang kita “inginkan” saat ini, pada siapapun yang kita “angan-angankan” sekarang. Kasarnya, tidak akan pernah kita raih kebahagiaan sejati dari cinta yang sebenarnya lebih tepat dibilang “nafsu”.

Karena cinta yang kukuh, agung dan barokah, hanya akan didapatkan setelah kita mencintai-Nya, menjaga hati untuk-Nya, dan mencintai selain-Nya karena-Nya juga. Karena ia yang mencintai kita dengan sebenar-benar cinta, adalah yang tidak akan pernah “meminta” sebelum ijab dan qobul terikrarkan di antara kita dengannya. Cinta yang baik itu, datang dari ia yang lebih khawatir akan kemurkaan Allah SWT daripada kemurkaan manusia.

Self reminder! Jika ada seseorang yang terlampau dekat dengan kita, ketahuilah bahwa syaithon sedang bermain-main di kepala kita. Terus menggerayangi kita untuk berbuat dosa, menjerumuskan diri kita dan ia yang kita “cintai” dalam gelimang lumpur ketidakhalalan. Sampai akhirnya Allah cemburu, murka dan tidak mempedulikan kita lagi. Astahgfirullaah. Jangan sampai.

Sabarlah dengan sebenar-benar sabar, karena janji Allah setelah sabar itu jauh lebih indah dari apapun yang terlihat indah dari ketidaksabaran yang dipaksa indahnya. Insya ALLAH..

-G-

Panah Hatinya dengan Doamu
Semua orang, entah kamu, entah saya, entah dia.  
Pasti pernah mendapat bingkisan doa.
Yang diselipkan ke penjuru langit, secara diam-diam. 
Tanpa pernah sedikitpun kamu sadari. 
Tanpa pernah sebaitpun kamu ketahui lariknya. 
Sekalipun kamu merasakan getarannya. 
Sekalipun hatimu mendengar dentingnya. 
Betapapun langkahmu tergerak karenanya. 
Tapi kamu tak pernah tahu, siapa yang mengirimkannya. 
Larik-larik doa yang sengaja dikirimkan, dan sengaja pula disembunyikan. 
Dari siapa, untuk siapa, dengan sebab apa, dan bagaimana isinya. 
Kamu tidak perlu bertindak heboh ingin tahu jawabannya. 
Tetap tenang, tetap kalem, slow down saja. 
Sebab doa tidak pernah salah alamat. 
Terhantar dengan selamat dan selalu tepat, selalu. 
Meski seringnya, 
Rasa khawatir selalu lebih dulu mempermainkan. 
Membisikkan prasangka yang bukan-bukan. 
Dan pada akhirnya, hati yang pernah tangguh kembali gentar. 
Kepada siapapun yang membaca ini. 
Yang pernah mengirimkan doa secara diam-diam. 
Yang mencoba menyelipkannya diantara milyaran doa yang mengangkasa bersamaan. 
Kita tidak berdoa pada Dzat yang salah. 
Dialah Dzat yang tak pernah bosan mendengar doa-doa manusia yang berpasrah. 
Doa yang lariknya selalu sama, itu-itu melulu. 
Doa yang dimohonkan untuk orang-orang yang sama, dia-mereka melulu. 
Pun doa yang diselipkan oleh wajah-wajah yang sama, saya-kamu-kita melulu. 
Dialah Dzat yang tak pernah membalas pengharapan dengan kata “Tidak.” 
Opsinya hanya ada tiga. 
"Iya", "Bukan untuk saat ini", atau "Kugantikan dengan yang lebih baik." 
Tidak pernah “Tidak”, bukan? 
Sebab yang Dia inginkan adalah agar kita terus berpengharapan. 
Kepada siapapun yang membaca ini. 
Mungkin mulai hari ini, mulai nanti malam. 
Doa-doa itu kembali kita selipkan diam-diam.
Untuknya, untuk mereka, atau untukmu sendiri. (Unknown) 
 -G-

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca blog ku. Kasih komentarmu yaa :)